Ngayogjazz 2008: Kembalikan Jazz ke Rakyat

Posted on November 24, 2008
Filed Under preview, live, entertainment, music, event |

YOGYAKARTA, JUMAT - Sementara penduduk Jakarta dan sekitarnya tengah menyongsong  Jakarta International Jazz Festival 2008, yang akan diselenggarakan pada 28-30 November mendatang, di Yogyakarta akan digelar Ngayogjazz 2008. 

Jazz di Indonesia selama ini teridentikkan sebagai musik yang rumit alias sama sekali tak easy listening dan untuk kalangan elit. Padahal, asal-muasalnya, di tempat lahirnya, Amerika, jazz merupakan musik rakyat.

Berangkat dari semangat untuk mengembalikan jazz jadi musik rakyat, dedengkot kelompok musik Kua Etnika, Jadug Feriyanto  berencana menyelenggarakan pergelaran jazz yang berbeda dengan pergelaran-pergelaran jazz lain yang pernah ada di negeri ini. Namanya, Ngayogjazz 2008, Njajazz Desa Milang Kori. Dijadwalkan, pergelaran tersebut akan diadakan di pada Minggu (23/11) di Desa Wisata Tembi, Bantul, selama hampir sehari penuh.

Sejumlah artis jazz, seperti Trie Utami, Iga Mawarni, Rieka Roslan, Komunitas Mata Hati (Surabaya), dan Koko Harsoe digaet oleh Jadug untuk terlibat dalam pergelaran itu. Diyakinkan oleh Jadug, pergelaran tersebut sangat unik. Para artis jazz nantinya akan memainkan musik jazz dengan simpel dan spontan di tengah interaksi sosial penduduk setempat, di tengah pemukiman mereka dan di sela kegiatan mereka sehari-hari. Oleh karena itu, jazz tak lagi elit dan sangat interaktif.

Semua orang yang hadir akan dilibatkan dalam berbagai permainan jazz yang cair dan penuh improvisasi. Banyak permainan yang tak terduga akibat interaksi antarpemain alat musik maupun dengan “pemain-pemain” dari kalangan penduduk setempat, yang dalam konteks pertunjukan secara konvensional disebut penonton. Hal begini terjadi ketika permainan jazz muncul di Amerika. “Jazz memang tidak muncul berupa pertunjukan, tetapi berupa permainan bersama. Jadi, kita undang pengunjung untuk ikut bermain, tidak sekadar menonton,” kata Jadug kepada sejumlah wartawan di Yogyakarta.

Karena konsepnya lokal, muatan yang akan disajikan dalam pergelaran tersebut juga bersifat local dan jauh dari kesan metropolis. Salah satu ciri lokalitas itu bukan hanya terlihat dari musik yang dimainkan, melainkan sudah muncul  dalam aksesori pergelaran tersebut. 

Menurut rencana akan dipasang lima panggung besar dalam satu kawasan desa yang sangat luas.  Kelima panggung itu diberi nama yang sangat njawani, seperti Ting Clebung , Sak Munine, Klothekan,  Nggandem, dan Klonengan. Sebuah pasar jazz akan melengkapinya.

Meski pentas belum terlaksana, Pemerintah Daerah (Pemda) Bantul telah terpikat dengan konsep yang digagas oleh adik Presiden Republik Mimpi Si Butet Yogya  tersebut. Pemda Bantul juga berencana menjadikannya event budaya tahunan. Namun, kata Jadug lagi, dengan memberi dukungan itu tak berarti Pemkab Bantul memiliki gagasan Jadug untuk pergelaran tersebut. “Ah, saya kira tidak dimiliki, tetapi hanya sebuah dukungan yang berlanjut. Kalau benar-benar dimiliki, nantinya saya tak bebas lagi, dan saya tidak mau,” tandas Jadug. (kompas.com)

Share/Save/Bookmark

Popularity: 7% [?]

Dibaca 1002 kali oleh 289 orang

Comments

Ikutan kasi komen yuuk?